Minggu, 31 Januari 2010
Minggu, 20 Desember 2009
bentuk beda, isi sama
“Anda takkan pernah bisa menebak isi buku dari kulitnya.”—Edwin Rolfe dan Lester Fuller, Murder in the Glass Room, 1946Beberapa tahun belakangan ini, saya tergolong amat jarang mengonsumsi nasi. Sebaliknya, saya amat suka mi atau, sejak mengalaminya di Papua, papeda yang terbuat dari sagu. Yang tersebut terakhir merupakan karbohidrat yang nyaris murni.Alasannya bukanlah kesehatan; bukan karena saya menderita diabetes, bukan pula lantaran saya overweight. Sehingga saya menyanggah siapa pun yang mengkritisi tindakan saya beralih dari nasi ke mi, kentang atau sagu. “Lho, kan nasi, kentang dan sagu sama-sama karbohidrat?!” sergah mereka. Iya, saya tahu, tetapi bentuknya kan berbeda dari nasi. Inti dari tindakan saya beralih dari nasi ke mi bukanlah karena saya memikirkan kesehatan saya. Saya hanya bosan melihat bentuk nasi – yang sudah saya konsumsi selama lebih dari tiga puluh tahun!Ketika akan bertolak ke pedalaman Papua, 6 Desember 2009 lalu, seorang pendeta Kristen didaulat untuk memimpin doa, memohon lindungan dan keselamatan kepada Tuhan Allah, Bapa di Sorga. Walaupun beliau juga mempersilakan para peserta ekspedisi Nawa-Mamberamo yang non-Nasrani untuk berdoa menurut cara agama masing-masing, saya telah terbiasa untuk ‘masuk ke dalam’, menyelami isi dari doa dan bukan bentuk/cara berdoa. Doa yang diucapkan sang pendeta, dengan ‘bahasa Kristen’ yang saya hayati lewat isinya ternyata menggugah relijiusitas saya, sehingga doa sang pendeta pun saya amini. Bentuk boleh beda, tetapi isi ternyata tetap sama.Kebanyakan kita terpola hidupnya berdasarkan bentuk, dan amat jarang – jika tidak bisa dibilang tidak pernah – menghayati isi dari segala sesuatu, yaitu esensinya, makna hakikinya. Kegagalan semata dipandang sebagai kegagalan, yang seolah tidak membuka peluang bagi perbaikan, sedangkan isi dari kegagalan adalah segudang pelajaran yang dapat memandu kita untuk menjadi lebih baik lagi di kemudian hari. Pun dengan kesuksesan, yang hanya dianggap sebagai puncak dari proses ikhtiar. Padahal isi kesuksesan, lagi-lagi, adalah pembelajaran agar seyogianya kita mawas diri bahwa kesuksesan hanyalah satu tahap dari perjalanan hidup kita; bukan satu-satunya serta bukan ‘terminal terakhir’. Sukses pada saat ini belum tentu berarti sukses di kemudian hari. Isi dari gagal-sukses sejatinya adalah hikmah yang membantu kita untuk melakoni hidup secara sadar, dan darinya kita akan memperoleh kebijaksanaan.Bentuk merupakan karunia untuk kehidupan saat ini, di dunia ini. Ketika mati, isilah yang menyertai. Namun, segala bentuk punya isi, yang hakikatnya sama, walaupun dalam tampilan bentuk tampak beda. Sejumlah kerabat dan relasi saya bertanya-tanya, kok saya bisa feel at home di tengah masyarakat Papua yang bentuk fisiknya maupun cara hidupnya berbeda dari umumnya kita di Jakarta atau Pulau Jawa, sedangkan saya baru menjejakkan kaki di Papua pada pertengahan tahun 2009 ini. Di mana pun saya berada, saya selalu memohon tuntunan Tuhan agar saya dapat menyelami isi dari budaya masyarakat di mana saya berada, dan tidak terjebak pada bentuk semata. Itulah yang menyebabkan saya bisa merasa di rumah sendiri di mana pun saya berada; di antara orang asing, di tengah umat beda agama, atau dalam berbagai suasana. Setiap perjalanan yang saya lakukan ke Papua, kini, membuat dada saya bergemuruh dengan kerinduan akan kampung halaman sendiri!Ada mereka di antara kita yang acap merasa terganggu, hingga tingkat paranoia, dengan bentuk-bentuk yang berbeda dari yang mereka punyai. Apakah Tuhan hanya mengabulkan doa orang Islam saja, atau orang Kristen saja? Doa yang dipanjatkan sang pendeta Kristen sebelum para peserta ekspedisi Nawa-Mamberamo meluncur ke lokasi, maupun yang dipohonkan para peserta yang non-Nasrani, pada akhirnya membuat perjalanan itu penuh berkah lindungan dan keselamatan bagi siapa saja dalam rombongan, tak memandang agama apa yang dianutnya atau cara berdoanya. Bagaimana bentuk atau cara Anda menjalani hidup tidak usahlah dipaksakan pada orang lain hanya karena Anda melihat perbedaannya. Segala sesuatu diciptakan Tuhan untuk setiap makhluk sesuai proporsinya masing-masing, sehingga tidak perlu dipertentangkan. Bentuk beda, isi sama.©
Rabu, 11 November 2009
bingung neh mau taruk di manacuman ane Ngakak Abis baca perbedaan malingshit ma INdonesiacekidotINDONESIA : Kementerian Hukum dan HAMMALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh (wakakakakkakakka..gak kebayang gw Pak Andi Mattalatta adalah Menteri Tuduh Menuduh)INDONESIA : Kementerian AgamaMALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa ... ( oh please... )INDONESIA : Angkatan DaratMALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak BumiINDONESIA : Angkatan UdaraMALAYSIA : Laskar Angin-Angin ( Kaya sandiwara Brama Kumbara http://www.kaskus.us/images/smilies/sumbangan/24.gif )INDONESIA : 'Pasukaaan bubar jalan !!!'MALAYSIA : 'Pasukaaan cerai berai !!!'......(Oh my goshhhh)INDONESIA : MerayapMALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi ( Jangan gila dwoong..)INDONESIA : rumah sakit bersalinMALAYSIA : hospital korban lelaki ( bener juga sih....) Ha.........ha.INDONESIA : telepon selularMALAYSIA : talipon bimbitINDONESIA : Pasukan terjung payungMALAYSIA : Aska begayut (bergayut di lengan yg kokohhhhhhhh .....kaleee)INDONESIA : belok kiri, belok kananMALAYSIA : pusing kiri, pusing kanan ( Migrant..kaleee )INDONESIA : Departemen PertanianMALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam ( yuu marie….)INDONESIA : 6.30 = jam setengah tujuhMALAYSIA : 6.30 = jam enam setengahINDONESIA : gratis bicara 30menitMALAYSIA : percuma berbual 30minit (jd pgn pake XL utk berbual2 :D)INDONESIA : tidak bisaMALAYSIA : tak bolehINDONESIA : WCMALAYSIA : tandas INDONESIA : Satpam/sekuritiMALAYSIA : Penunggu Maling (keekkekeke...maling doank yg ditungguin)INDONESIA : AdukMALAYSIA : KacauINDONESIA : Di aduk hingga merataMALAYSIA : kacaukan tuk datarINDONESIA : 7 putaranMALAYSIA : 7 pusinganINDONESIA : Imut-imutMALAYSIA : Comel benar (baah.....!)INDONESIA : pejabat negaraMALAYSIA : kaki tangan NegaraINDONESIA :bertengkarMALAYSIA : bertumbukINDONESIA : pemerkosaanMALAYSIA : perogolanINDONESIA : PencopetMALAYSIA : Penyeluk Saku (lah klo ngambilnya dari tas...apa dwonkkk?)INDONESIA : joystickMALAYSIA : batang senang (krekrekrekre..dl dolo ini yg bikin gw paling ngakak :hammer::amazed:INDONESIA : Tidur siangMALAYSIA : Petang telentang (telentang ???? gak ada tengkurep2nya?.....:-)INDONESIA : Air HangatMALAYSIA : Air SuamINDONESIA : TerasiMALAYSIA : Belacan (hm...sama dg bahasa melayu )INDONESIA : PengacaraMALAYSIA : PenguamINDONESIA : SepatuMALAYSIA : Kasut (temennya kasur :D)INDONESIA : BanMALAYSIA : Tayar (Tonjok….kalo bahasa Jatim)INDONESIA : remoteMALAYSIA : kawalan jauh (maksudnya???)INDONESIA : kulkasMALAYSIA : peti sejuk (weleh)INDONESIA : chattingMALAYSIA : bilik berbual (wwkkwkwk..bener juga...tempat para pembual)INDONESIA : rusakMALAYSIA : tak sihatINDONESIA : keliling kotaMALAYSIA : pusing pusing ke bandar (Ya emang kalo sering main ke Bandar..jadinya pusing terus :hammer:)INDONESIA : TankMALAYSIA : Kereta kebal (suntik kale..:p)INDONESIA : KedatanganMALAYSIA : ketibaanINDONESIA : bersenang-senangMALAYSIA : berseronok (Kena UU pornografi lhooo…)INDONESIA : bioskopMALAYSIA : panggung wayang (ahhahhahah ... ....)INDONESIA : rumah sakit jiwaMALAYSIA : gubuk gila (Gubug Derita …kaleee)INDONESIA : dokter ahli jiwaMALAYSIA : Dokter gila (jadi sebenernya yg gila sapa....hehehe. ..)INDONESIA : narkobaMALAYSIA : dadah (?????....byeeeeee, bubyeee, papaiii)INDONESIA : pintu daruratMALAYSIA : Pintu kecemasan (Pintu Gelisah ….)INDONESIA : hantu pocongkkkkkkMALAYSIA : hantu Bungkus ( pesen 1, bang…)INDONESIA : Kipas AnginMALAYSIA : Mesin Tiup (hehe....)tambahanINDONESIA : Angkatan LautMALAYSIA : Angkatan Basah KuyupINDONESIA : Kepala Sekolah Sekolah Dasar (SD)MALAYSIA : Guru Besar (gileee, coy...kudu Professor yg jd kepala SD di Malaysia :hammer: )INDONESIA : JumlahMALAYSIA : Banci (wkwkwkkwkwkwk)INDONESIA: ES CampurMALAYSIA: ABC (Air Batu Campur Ponari Sweat kaleeeee :p)INDONESIA : Purnawirawan militerMALAYSIA : Pasukan tak berguna (kejam niannnnnnnn...abis manis sepah dibuang nih :nangis: )INDONESIA : menteri kehutananMALAYSIA: menteri semak belukar (wkwkwkwkwkkwk "semak belukar" )INDONESIA: Ha ha ha haMALAYSIA : kah kah kah kah (what the kamsud??? http://www.kaskus.us/images/smilies/bolakbalik.gif )INDONESIA : Departemen PertanianMALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam (cucuk idungnye...:hammer: )INDONESIA: ok lah, gw mo tidur duluMALINGSIA: k larr, aku nak tido (ude gede juga masih anak2 *nak* ) :hammer:INDONESIA : Biji P*l*rMALAYSIA : Buah manggut2 geleng2 (bruakakkakakakkakakkakaa *pingsan seketika*INDONESIA :Nyep*nkMALAYSIA : Teguk kelamin (busettttttttttttttttttttttttt tttt...air tuh yg ditegukkk)INDONESIA : PANTATMALAYSIA : M*M*K/V*G**A (blehhhh, gak jelas bgt nih....gak bisa ngebedain mana depan mana belakang yaa) http://www.kaskus.us/images/smilies/sumbangan/8.gifINDONESIA : ONA*N*MALAYSIA : Tarik - Dorong Kelamin (huakakakakakakkaka :D :D )INDONESIA: cuci mobilMALAYSIA: cuci kereta (cuci gerbong kereta api yg segitu panjangnya??? :wekk::kaget: )INDONESIA : sabuk pengaman di pesawatMALAYSIA :tali keledar (tak kirain tali keledai) http://www.kaskus.us/images/smilies/sumbangan/6.gifIndonesia: PunggungMalaysia : Pantat (wakakakakak...ini lagi...sptnya mereka punya masalah dlm orientasi deh )INDONESIA= ” prajurit, tiarap !”MALAYSIA= ” askar,bersetubuh dgn bumi !” (ampunnnnnn...bener2 kelainan/penyimpangan neh...:hammer: .....)INDONESIA : MALING BUDAYAMALAYSIA : HOBI KAMILucu2 yaaaaa......bikin gw ketawa berseronok nih :hammer:Semoga terhibur :)Beginilah akibatnya orang Malaysia menterjemahkan istilah-istilah Komputer. Istilah: Hardware: barang keras Software: barang lembut Joystick: batang bahagia Plug and Play: cucuk dan main Port: lubang Server: pelayan Client= pelanggan Contoh: "That server gives a plug and play service to the clients using either hardware or software joystick. The joystick goes into the port of the client." Translated: "Pelayan itu memberi pelanggannya layanan cucuk dan main dengan mempergunakan batang bahagia jenis keras atau lembut. Batang bahagia itu dimasukkan ke dalam lubang pelanggan."
Jumat, 06 November 2009
Jika negara ini telah dikuasai oleh para bajingan
Jika negara ini telah dikuasai oleh para bajingan
hukum rimba akan berjalan
yang kuat yang menang
yang lemah merana dalam kebimbangan
Jika negara ini telah dikuasai oleh para bajingan
keadilan takkan bisa berjalan
terkekang oleh kesemena-menaan
lapuk dimakan tikus-tikus koruptor
Jika negara ini telah dikuasai oleh para bajingan
mafia hukum akan berjaya
membeli perkara dan pasal-pasal
kita hanya bisa mengibarkan bendera putih tanda kekalahan
Jiak negara ini telah dikuasai oleh para bajingan
ketimpangan sosial akan makin kentara
si kaya menari dengan suka cita
sedangkan si miskin merana tak tentu arah
Lalu siapa yang akan menjadi juru selamat?
Yang akan menegakkan keadilan
meringkus semua mafia hukum dan para bajingan
hanya Tuhan yang dapat menentukan
hukum rimba akan berjalan
yang kuat yang menang
yang lemah merana dalam kebimbangan
Jika negara ini telah dikuasai oleh para bajingan
keadilan takkan bisa berjalan
terkekang oleh kesemena-menaan
lapuk dimakan tikus-tikus koruptor
Jika negara ini telah dikuasai oleh para bajingan
mafia hukum akan berjaya
membeli perkara dan pasal-pasal
kita hanya bisa mengibarkan bendera putih tanda kekalahan
Jiak negara ini telah dikuasai oleh para bajingan
ketimpangan sosial akan makin kentara
si kaya menari dengan suka cita
sedangkan si miskin merana tak tentu arah
Lalu siapa yang akan menjadi juru selamat?
Yang akan menegakkan keadilan
meringkus semua mafia hukum dan para bajingan
hanya Tuhan yang dapat menentukan
Rabu, 21 Oktober 2009
rencana masa depan
ini nih rencana hidup gua kedepan:
umur 15:lulus sma dengan NEM 40. masuk kolese kanisius
umur 18:lulus sma dengan NEM tertinggi nasinoal. langsung masuk harvard law school
umur 22:lulus s-1 dengan predikat cumma cum laude dapet gelar bachelor of law
umur 24:lulus s-2 dari harvard law school dapet gelar LL.M
umur 25:jadi advokat di law firm terbesar di amerika
umur 29:jadi partner termuda dalam sejarah (gaji 1 juta dolar per tahun)
umur 39:membantu pemerintah indonesia dalam sengketa internasional dan berhasil memenangi kasus
umur 40:pindah ke indonesia. mendirikan muhammad arlis law firm
umur 42:muhammad arlis law firm menjadi law firm terbesar di indonesia
umur 43:jadi lawyer terkaya di indonesia
umur 47:mendirikan Partai Nahdatul Muslimin Indonesia(PNMI)membela partai dalam mendapatkan izin di MK dan memenangi persidangan
umur 48:PNMI memenangi pemilu. saya terpilih menjadi menteri hukum dan ham
umur 53-63:menjadi presiden RI dan mengubah konstitusi negara.hehehehe
umur 73 :setelah tidak menjadi presiden, negara indonesia jadi negara liberal. lalu gua memimpin pemberontakan hizbul muslimin indonesia.kami dibantu oleh iran, rusia, dan semua negara arab.sedangkan indonesia liberal dibantu oleh amrik dan sekutunya
umur 75 :hizbul muslimin indonesia berhasil menguasai sumatera, jawa, kalimantan, dan bali.lalu mengadakan perjanjian moskwa dengan hasil indonesia terbagi dua yaitu:islamic republic of indonesia(bagian gua) dan Republic of Indonesia (bagian liberal). gua diangkat lagijadi presiden iclamic republic of indonesia.
umur 80 :lengser dari kekuasaan
umur 80-mati:menikmati hidup
hehehe
umur 15:lulus sma dengan NEM 40. masuk kolese kanisius
umur 18:lulus sma dengan NEM tertinggi nasinoal. langsung masuk harvard law school
umur 22:lulus s-1 dengan predikat cumma cum laude dapet gelar bachelor of law
umur 24:lulus s-2 dari harvard law school dapet gelar LL.M
umur 25:jadi advokat di law firm terbesar di amerika
umur 29:jadi partner termuda dalam sejarah (gaji 1 juta dolar per tahun)
umur 39:membantu pemerintah indonesia dalam sengketa internasional dan berhasil memenangi kasus
umur 40:pindah ke indonesia. mendirikan muhammad arlis law firm
umur 42:muhammad arlis law firm menjadi law firm terbesar di indonesia
umur 43:jadi lawyer terkaya di indonesia
umur 47:mendirikan Partai Nahdatul Muslimin Indonesia(PNMI)membela partai dalam mendapatkan izin di MK dan memenangi persidangan
umur 48:PNMI memenangi pemilu. saya terpilih menjadi menteri hukum dan ham
umur 53-63:menjadi presiden RI dan mengubah konstitusi negara.hehehehe
umur 73 :setelah tidak menjadi presiden, negara indonesia jadi negara liberal. lalu gua memimpin pemberontakan hizbul muslimin indonesia.kami dibantu oleh iran, rusia, dan semua negara arab.sedangkan indonesia liberal dibantu oleh amrik dan sekutunya
umur 75 :hizbul muslimin indonesia berhasil menguasai sumatera, jawa, kalimantan, dan bali.lalu mengadakan perjanjian moskwa dengan hasil indonesia terbagi dua yaitu:islamic republic of indonesia(bagian gua) dan Republic of Indonesia (bagian liberal). gua diangkat lagijadi presiden iclamic republic of indonesia.
umur 80 :lengser dari kekuasaan
umur 80-mati:menikmati hidup
hehehe
Senin, 19 Oktober 2009
Belajar dari kegagalan
Bangkit Dari Kegagalan
Siapapun anda yang membaca artikel saya ini pasti pernah mengalami kegagalan. Masih ingatkah anda ketika pertama kali menulis puisi? Untuk menulis puisi mungkin kita memerlukan berlembar-lembar kertas karena kita merasa gagal dengan tulisan-tulisan pertama, kedua dan berikutnya. Mungkin anda pernah gagal dalam pacaran, pernah kalah dalam suatu pertandingan, pernah gagal memanfaatkan kesempatan yang sudah di depan mata atau kegagalan-kegagalan lainnya.
Dalam sequel film Rambo yang dimulai dari First Blood (1982) dan First Blood 2 (1985), kita bisa melihat betapa hebatnya tentara Amerika bertempur dalam perang Vietnam. John Rambo (Sylvester Stallone) dalam perang Vietnam ini seolah-olah merupakan "ikon" tentara Amerika sangat digdaya dan selalu memenangkan setiap pertempuran yang dilakoninya. Dalam perang Vitenam sesungguhnya yang terjadi antara tahun 1959 - 1975, terdapat 58,000 tentara Amerika gugur. Mereka berhasil dikalahkan oleh para Viet Cong (tentara sipil untuk mempertahankan Vietnam Selatan). Ahli strategi militer klasik China Sun Tzu (544 - 496 SM), pernah mengatakan bahwa tidak mungkin kita memenangkan dalam setiap medan pertempuran. Tentara Amerika yang sangat digdaya dan mempunyai peralatan canggihpun pun bisa mengalami kekalahan atau kegagalan.
Di era akhir 80-an kita dikejutkan dengan munculnya si leher beton Mike Tyson di khasanah tinju kelas berat dunia. Dalam 19 penampilan pertamanya di ring tinju professional, Mike Tyson mengalahkan lawan-lawannya maksimal dalam 6 ronde, dan 12 di antaranya diKO pada ronde ke-1! Saat itu muncul asumsi bahwa dalam sepuluh tahun ke depan akan sulit menemukan lawan sepadan buat Mike Tyson di planet ini. Namun siapa sangka pada tanggal 11 Februari 1990 di Tokyo, Mike Tyson bisa dijungkalkan James "Buster" Douglas, petinju yang tidak dilirik sebelah mata pun oleh pasar taruhan (42-1 untuk Tyson)? Dalam 35 detik di ronde ke-10 untuk pertama kalinya Tyson mencium kanvas dan kehilangan gelar!
Dari kedua contoh di atas jelas menunjukkan bahwa kegagalan bisa terjadi pada siapa saja. Kegagalan harus kita yakini sebagai proses yang belum sempurna, ada tahap-tahap tertentu yang mungkin tidak kita prediksi sebelumnya atau kita lewati hanya dikarenakan kita terlalu percaya diri. Untuk kasus Mike Tyson, dia terlalu menganggap remeh lawan dan sangat kurang dalam persiapan menghadapi pertarungan tersebut. Hanya sayangnya James "Buster" Douglas bukanlah petinju besar, setelah pertarungan tersebut dia langsung kehilangan gelar pada saat mempertahankan gelar pertamanya melawan Evander Holyfield. Namun dia akan selalu dikenang sejarah sebagai orang pertama yang berhasil menjungkalkan si leher beton! Tidak ada manusia hidup di dunia ini dengan kesempurnaan. Seperti kurva distribusi normal, semua dimulai dari bawah, bergerak menuju ke puncak dan pada masanya mengalami penurunan. Semua orang pernah mengalami kegagalan.
Kesuksesan di balik Kegagalan
Pada setiap kegagalan yang kita alami, jika kemudian kita lakukan evaluasi maka akan terdapat beberapa kesempatan-kesempatan baru untuk mendapatkan kesuksesan yang lebih besar. Siapa yang tidak mengenal Abraham Lincoln? Lincoln sudah ditinggalkan ayahnya pada usia 8 tahun dan ditinggal ibunya pada saat usianya 10 tahun. Kegagalan demi kegagalan di waktu mudanya tidak membuat dirinya patah semangat. Abraham Lincoln mampu membuat kegagalan menjadi batu loncatan antara satu kesuksesan ke kesuksesan lain. Tahun 1849 Lincoln maju menjadi walikota namun ditolak. Tahun 1854 maju menjadi anggota senat namun gagal juga. Tapi ia terus maju dan kembali gagal saat mencalonkan diri jadi Wakil Presiden pada tahun 1856 tetapi gagal karena suaranya di bawah 100 pemilih. Saat mencoba masuk senat pada 1858 ia kalah lagi. Dengan kegigihan dan keyakinan kuat, Abraham Lincoln malahan terpilih menjadi Presiden AS ke-16 pada tahun 1860.
Anda pasti mengenal celana Levi's bukan? Proses di balik kesuksesannya sangat menginspirasi kita. Levi Strauss dilahirkan di Bavaria Eropa 26 Februari 1829. Ketika di San Fransisco pada tahun 1850 lagi demam penambangan emas, dia mencoba peruntungan bermigrasi ke San Fransisco. Akhirnya dia menjadi warga negara Amerika di tahun 1853. Mengetahui kegagalannya menjadi penambang emas, Levi Strauss melihat justru ada peluang baru, dia menawarkan tenda-tenda kanvas ke para penambang. Pekerja-pekerja tambang di sana justru sangat tertarik dengan celana panjang yang dikenakannya. Kemudian dikembangkanlah celana denim atau jeans. Bisnis barunya ini menjadi cikal bakal blue jeans "Levi's" yang merupakan merek pertama dan terpopuler hingga saat ini.
Kegagalan memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa mungkin cara yang kita tempuh adalah salah sehingga kita bisa mengerjakan segala proses kesuksesan dengan lebih baik. Kita juga jadi tahu resiko-resiko yang mungkin akan muncul di setiap proses dan bagaimana menghindari resikonya tersebut. Kegagalan jika dikelola dengan baik akan membangitkan motivasi positif dalam diri kita.
Fenomena Rudy Hartono dan David Beckham
Seorang remaja Indonesia usia 18 tahun di tahun 1968, berhasil mengalahkan pemain badminton hebat Tan Aik Huang (Malaysia) dengan score 15-12 dan 15-9 di ajang Piala All England untuk pertama kalinya. Remaja ini bahkan setahun sebelumnya memberikan andil kemenangan tim bulutangkis Indonesia untuk memenangkan Thomas Cup. Dialah Rudy Hartono, sang maestro bulutangkis kita. Rudy memenangkan piala supremasi All England sebanyak 7 kali berturut-turut dari tahun 1968-1974. Tampil 10 kali di final All England, Rudy Hartono berhasil merebut 8 kali juara. Tahun 1975 di final Rudy dikalahkan musuh bebuyutannya yaitu Svend Pri (Denmark) dengan score 11-15 dan 14-17. Tahun 1976 Rudy bangkit dari kegagalannya dan mengalahkan Liem Swie King di final. Tahun 1977 Rudy tidak ikut dan di tahun 1978 dia tampil di final All England lagi meskipun akhirnya dikalahkan juniornya Liem Swie King. Selain tahun 1967, Rudy Hartono juga mengantarkan Indonesia merebut Thomas Cup 1970, 1973 dan 1976. Kegagalan menyakitkan bagi Rudy Hartono kekalahan menyesakkannya dari Svend Pri di ajang Thomas Cup tahun 1973 di Jakarta. Meski Indonesia mengalahkan Denmark 8-1 namun satu-satunya kekalahan Indonesia adalah diperoleh Rudy Hartono. Bukanlah Rudy Hartono kalau tidak bangkit kembali. Dia bangkit kembali dengan merebut 3 gelar All England setelah itu, bahkan di tahun 1980 Rudy Hartono menjadi juara dunia mengalahkan Liem Swie King. Suatu prestasi yang sangat sukar diulangi sampai kapanpun juga. Tidak gampang menjadi juara di kejuaraan internasional badminton apalagi sebagai juara badminton All England 8 kali!
Contoh paling gres tentang bangkit dari kegagalan dari dunia sepakbola adalah fenomena David Beckham. Beckham gagal membawa Inggris dalam Piala Dunia 2006. Lebih tragis lagi dia dicoret dari timnas Inggris oleh Steve McClaren pada 11 Agustus 2006. Di Real Madrid klub terakhir dia bercokol (hingga akhir Juni 2007) tidak pernah memasang Beckham sebagai starter sejak itu. Fabio Capello sang pelatih malah bilang tidak akan pernah memakai Beckham lagi setelah dia menandatangani kontrak 5 tahun sebesar 250 juta dollar US dengan klub Los Angeles Galaxy pada 14 Januari 2007. Namun apa yang dilakukan Beckham dengan serangkaian kegagalan dan penolakan di ujung karirnya? Beckham tetaplah seorang profesional sejati. Dia tetap disiplin berlatih bersama teman-temannya Real Madrid di Santiago Bernabeu meskipun namanya tidak masuk dalam line-up pemain sekalipun.
Hingga Real Madrid mengalami krisis pemain dan kegagalan beruntun dihadapi, akhirnya Fabio Capello menarik kembali ucapannya dan memasang Beckham kembali. Hal yang luar biasa bahwa Beckham bisa bangkit dan menunjukkan kelasnya sebagai pemain dunia yang mengantarkan kemenangan Real Madrid di beberapa pertandingan terakhir. Malang bagi Real Madrid, kini Beckham sudah bukan milik mereka lagi, mereka menyesal pernah melakukan kesalahan terbesar dengan mencoretnya dalam daftar pemain. Ramon Calderon Presiden Real Madrid berusaha menggagalkan kepergian Beckham ke LA Galaxy berapapun biayanya, namun Beckham tetaplah pemain profesional dan tetap akan ke LA Galaxy.
Tanggal 26 Mei 2007 Mc. Claren pelatih Inggris memanggil kembali Beckham di tim nasional Inggris setelah tim Inggris mengalami permainan buruk sepanjang awal kualifikasi piala Euro 2008. Pertandingan comeback pertama Beckham yang dilakoni melawan Brasil berhasil dilewatinya dengan sempurna. Umpan matangnya ke John Terry mengantarkan Inggris memenangkan pertandingan tersebut. Bravo buat profesionalisme Beckham! Dia memberikan contoh bahwa bangkit dari kegagalan adalah suatu keharusan jika kita ingin tetap maju.
Setiap orang mengalami masa-masa perjuangan menuju sukses. Untuk mencapai kesuksesan ada resikonya. Semakin besar resiko maka semakin besar pula tingkat kesuksesannya. Resiko terbesar adalah kegagalan. Kegagalan adalah suatu kata yang tidak enak didengar, dan tidak seorang pun di dunia ini yang menginginkan atau mau mengalami kegagalan itu. Kita sudah belajar bahwa orang-orang sukses tidak bakalan sukses tanpa kegagalan-kegagalan yang dialaminya. Orang-orang sukses beranggapan kegagalan adalah bersifat sementara bukan permanen. Kegagalan hendaklah hanya merupakan salah satu bab dalam rangkaian buku kehidupan kita. Kegagalan bukanlah menjadi penutup kehidupan kita, terkecuali jika kita menyerah terlalu dini. Nah jika kita pernah mengalami kegagalan, berapapun besar tingkat kegagalan tersebut tetaplah pantang menyerah. Ambillah sikap positif. Belajarlah dari kegagalan, evaluasi dan lakukan action-action baru. Kita harus mampu bangkit dari kegagalan dan menjadi pemenang di kehidupan ini!
Salam dahsyat luar biasa!
Siapapun anda yang membaca artikel saya ini pasti pernah mengalami kegagalan. Masih ingatkah anda ketika pertama kali menulis puisi? Untuk menulis puisi mungkin kita memerlukan berlembar-lembar kertas karena kita merasa gagal dengan tulisan-tulisan pertama, kedua dan berikutnya. Mungkin anda pernah gagal dalam pacaran, pernah kalah dalam suatu pertandingan, pernah gagal memanfaatkan kesempatan yang sudah di depan mata atau kegagalan-kegagalan lainnya.
Dalam sequel film Rambo yang dimulai dari First Blood (1982) dan First Blood 2 (1985), kita bisa melihat betapa hebatnya tentara Amerika bertempur dalam perang Vietnam. John Rambo (Sylvester Stallone) dalam perang Vietnam ini seolah-olah merupakan "ikon" tentara Amerika sangat digdaya dan selalu memenangkan setiap pertempuran yang dilakoninya. Dalam perang Vitenam sesungguhnya yang terjadi antara tahun 1959 - 1975, terdapat 58,000 tentara Amerika gugur. Mereka berhasil dikalahkan oleh para Viet Cong (tentara sipil untuk mempertahankan Vietnam Selatan). Ahli strategi militer klasik China Sun Tzu (544 - 496 SM), pernah mengatakan bahwa tidak mungkin kita memenangkan dalam setiap medan pertempuran. Tentara Amerika yang sangat digdaya dan mempunyai peralatan canggihpun pun bisa mengalami kekalahan atau kegagalan.
Di era akhir 80-an kita dikejutkan dengan munculnya si leher beton Mike Tyson di khasanah tinju kelas berat dunia. Dalam 19 penampilan pertamanya di ring tinju professional, Mike Tyson mengalahkan lawan-lawannya maksimal dalam 6 ronde, dan 12 di antaranya diKO pada ronde ke-1! Saat itu muncul asumsi bahwa dalam sepuluh tahun ke depan akan sulit menemukan lawan sepadan buat Mike Tyson di planet ini. Namun siapa sangka pada tanggal 11 Februari 1990 di Tokyo, Mike Tyson bisa dijungkalkan James "Buster" Douglas, petinju yang tidak dilirik sebelah mata pun oleh pasar taruhan (42-1 untuk Tyson)? Dalam 35 detik di ronde ke-10 untuk pertama kalinya Tyson mencium kanvas dan kehilangan gelar!
Dari kedua contoh di atas jelas menunjukkan bahwa kegagalan bisa terjadi pada siapa saja. Kegagalan harus kita yakini sebagai proses yang belum sempurna, ada tahap-tahap tertentu yang mungkin tidak kita prediksi sebelumnya atau kita lewati hanya dikarenakan kita terlalu percaya diri. Untuk kasus Mike Tyson, dia terlalu menganggap remeh lawan dan sangat kurang dalam persiapan menghadapi pertarungan tersebut. Hanya sayangnya James "Buster" Douglas bukanlah petinju besar, setelah pertarungan tersebut dia langsung kehilangan gelar pada saat mempertahankan gelar pertamanya melawan Evander Holyfield. Namun dia akan selalu dikenang sejarah sebagai orang pertama yang berhasil menjungkalkan si leher beton! Tidak ada manusia hidup di dunia ini dengan kesempurnaan. Seperti kurva distribusi normal, semua dimulai dari bawah, bergerak menuju ke puncak dan pada masanya mengalami penurunan. Semua orang pernah mengalami kegagalan.
Kesuksesan di balik Kegagalan
Pada setiap kegagalan yang kita alami, jika kemudian kita lakukan evaluasi maka akan terdapat beberapa kesempatan-kesempatan baru untuk mendapatkan kesuksesan yang lebih besar. Siapa yang tidak mengenal Abraham Lincoln? Lincoln sudah ditinggalkan ayahnya pada usia 8 tahun dan ditinggal ibunya pada saat usianya 10 tahun. Kegagalan demi kegagalan di waktu mudanya tidak membuat dirinya patah semangat. Abraham Lincoln mampu membuat kegagalan menjadi batu loncatan antara satu kesuksesan ke kesuksesan lain. Tahun 1849 Lincoln maju menjadi walikota namun ditolak. Tahun 1854 maju menjadi anggota senat namun gagal juga. Tapi ia terus maju dan kembali gagal saat mencalonkan diri jadi Wakil Presiden pada tahun 1856 tetapi gagal karena suaranya di bawah 100 pemilih. Saat mencoba masuk senat pada 1858 ia kalah lagi. Dengan kegigihan dan keyakinan kuat, Abraham Lincoln malahan terpilih menjadi Presiden AS ke-16 pada tahun 1860.
Anda pasti mengenal celana Levi's bukan? Proses di balik kesuksesannya sangat menginspirasi kita. Levi Strauss dilahirkan di Bavaria Eropa 26 Februari 1829. Ketika di San Fransisco pada tahun 1850 lagi demam penambangan emas, dia mencoba peruntungan bermigrasi ke San Fransisco. Akhirnya dia menjadi warga negara Amerika di tahun 1853. Mengetahui kegagalannya menjadi penambang emas, Levi Strauss melihat justru ada peluang baru, dia menawarkan tenda-tenda kanvas ke para penambang. Pekerja-pekerja tambang di sana justru sangat tertarik dengan celana panjang yang dikenakannya. Kemudian dikembangkanlah celana denim atau jeans. Bisnis barunya ini menjadi cikal bakal blue jeans "Levi's" yang merupakan merek pertama dan terpopuler hingga saat ini.
Kegagalan memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa mungkin cara yang kita tempuh adalah salah sehingga kita bisa mengerjakan segala proses kesuksesan dengan lebih baik. Kita juga jadi tahu resiko-resiko yang mungkin akan muncul di setiap proses dan bagaimana menghindari resikonya tersebut. Kegagalan jika dikelola dengan baik akan membangitkan motivasi positif dalam diri kita.
Fenomena Rudy Hartono dan David Beckham
Seorang remaja Indonesia usia 18 tahun di tahun 1968, berhasil mengalahkan pemain badminton hebat Tan Aik Huang (Malaysia) dengan score 15-12 dan 15-9 di ajang Piala All England untuk pertama kalinya. Remaja ini bahkan setahun sebelumnya memberikan andil kemenangan tim bulutangkis Indonesia untuk memenangkan Thomas Cup. Dialah Rudy Hartono, sang maestro bulutangkis kita. Rudy memenangkan piala supremasi All England sebanyak 7 kali berturut-turut dari tahun 1968-1974. Tampil 10 kali di final All England, Rudy Hartono berhasil merebut 8 kali juara. Tahun 1975 di final Rudy dikalahkan musuh bebuyutannya yaitu Svend Pri (Denmark) dengan score 11-15 dan 14-17. Tahun 1976 Rudy bangkit dari kegagalannya dan mengalahkan Liem Swie King di final. Tahun 1977 Rudy tidak ikut dan di tahun 1978 dia tampil di final All England lagi meskipun akhirnya dikalahkan juniornya Liem Swie King. Selain tahun 1967, Rudy Hartono juga mengantarkan Indonesia merebut Thomas Cup 1970, 1973 dan 1976. Kegagalan menyakitkan bagi Rudy Hartono kekalahan menyesakkannya dari Svend Pri di ajang Thomas Cup tahun 1973 di Jakarta. Meski Indonesia mengalahkan Denmark 8-1 namun satu-satunya kekalahan Indonesia adalah diperoleh Rudy Hartono. Bukanlah Rudy Hartono kalau tidak bangkit kembali. Dia bangkit kembali dengan merebut 3 gelar All England setelah itu, bahkan di tahun 1980 Rudy Hartono menjadi juara dunia mengalahkan Liem Swie King. Suatu prestasi yang sangat sukar diulangi sampai kapanpun juga. Tidak gampang menjadi juara di kejuaraan internasional badminton apalagi sebagai juara badminton All England 8 kali!
Contoh paling gres tentang bangkit dari kegagalan dari dunia sepakbola adalah fenomena David Beckham. Beckham gagal membawa Inggris dalam Piala Dunia 2006. Lebih tragis lagi dia dicoret dari timnas Inggris oleh Steve McClaren pada 11 Agustus 2006. Di Real Madrid klub terakhir dia bercokol (hingga akhir Juni 2007) tidak pernah memasang Beckham sebagai starter sejak itu. Fabio Capello sang pelatih malah bilang tidak akan pernah memakai Beckham lagi setelah dia menandatangani kontrak 5 tahun sebesar 250 juta dollar US dengan klub Los Angeles Galaxy pada 14 Januari 2007. Namun apa yang dilakukan Beckham dengan serangkaian kegagalan dan penolakan di ujung karirnya? Beckham tetaplah seorang profesional sejati. Dia tetap disiplin berlatih bersama teman-temannya Real Madrid di Santiago Bernabeu meskipun namanya tidak masuk dalam line-up pemain sekalipun.
Hingga Real Madrid mengalami krisis pemain dan kegagalan beruntun dihadapi, akhirnya Fabio Capello menarik kembali ucapannya dan memasang Beckham kembali. Hal yang luar biasa bahwa Beckham bisa bangkit dan menunjukkan kelasnya sebagai pemain dunia yang mengantarkan kemenangan Real Madrid di beberapa pertandingan terakhir. Malang bagi Real Madrid, kini Beckham sudah bukan milik mereka lagi, mereka menyesal pernah melakukan kesalahan terbesar dengan mencoretnya dalam daftar pemain. Ramon Calderon Presiden Real Madrid berusaha menggagalkan kepergian Beckham ke LA Galaxy berapapun biayanya, namun Beckham tetaplah pemain profesional dan tetap akan ke LA Galaxy.
Tanggal 26 Mei 2007 Mc. Claren pelatih Inggris memanggil kembali Beckham di tim nasional Inggris setelah tim Inggris mengalami permainan buruk sepanjang awal kualifikasi piala Euro 2008. Pertandingan comeback pertama Beckham yang dilakoni melawan Brasil berhasil dilewatinya dengan sempurna. Umpan matangnya ke John Terry mengantarkan Inggris memenangkan pertandingan tersebut. Bravo buat profesionalisme Beckham! Dia memberikan contoh bahwa bangkit dari kegagalan adalah suatu keharusan jika kita ingin tetap maju.
Setiap orang mengalami masa-masa perjuangan menuju sukses. Untuk mencapai kesuksesan ada resikonya. Semakin besar resiko maka semakin besar pula tingkat kesuksesannya. Resiko terbesar adalah kegagalan. Kegagalan adalah suatu kata yang tidak enak didengar, dan tidak seorang pun di dunia ini yang menginginkan atau mau mengalami kegagalan itu. Kita sudah belajar bahwa orang-orang sukses tidak bakalan sukses tanpa kegagalan-kegagalan yang dialaminya. Orang-orang sukses beranggapan kegagalan adalah bersifat sementara bukan permanen. Kegagalan hendaklah hanya merupakan salah satu bab dalam rangkaian buku kehidupan kita. Kegagalan bukanlah menjadi penutup kehidupan kita, terkecuali jika kita menyerah terlalu dini. Nah jika kita pernah mengalami kegagalan, berapapun besar tingkat kegagalan tersebut tetaplah pantang menyerah. Ambillah sikap positif. Belajarlah dari kegagalan, evaluasi dan lakukan action-action baru. Kita harus mampu bangkit dari kegagalan dan menjadi pemenang di kehidupan ini!
Salam dahsyat luar biasa!
Jumat, 16 Oktober 2009
elitisme anti-alay
Syahdan para filsuf dan kritikus seni gusar. Kapitalisme merajalela. Sekonyong-konyong seni menjadi komoditas yang berasa terlalu dangkal dan tidak otentik untuk dihayati. Karya Beethoven dimutilasi dan lagu pop menye-menye dengan lirik yang sangat norak (ini termasuk The Beatles dengan lagu semacam Can’t Buy Me Love) merebak ke segala penjuru dan disambut dengan histeria anak-anak ABG paska-Perang Dunia ke-2, membuat wajah penikmat ‘musik serius’ merah, entah karena marah atau malu. Gelisah, seniman berkata, duplikasi seni itu bukan seni, tetapi kitsch, seni murahan yang tidak lebih dari jiplakan jelek dari mahakarya para maestro! Kata Mbah Adorno, kitsch ini kesadaran estetik palsu, sebuah parodi dari pengalaman estetika yang sejati. Saya pun membayangkan Adorno meledek The Beatles seperti Anda meledek Kangen Band. Adorno sebel sama The Beatles karena musik mereka itu kitschy, sementara Anda meledek Kangen Band karena mereka ‘alay’!
Fenomenologi ‘Alay’
Apakah ‘alay’? Blogosfer dan Fesbukdom Indonesia mendefinisikan alay dengan menjabarkan ciri-ciri seorang ‘alay’. Bisa dilihat uraiannya di sini dan di sini. Dangkal memang esensialisme semacam itu. Tetapi mereka tidak sepenuhnya salah juga, karena, seperti akan saya jelaskan di bawah nanti, sebenarnya kaum anti-‘alay’ ini memang hendak mengkritisi sebuah ‘kedangkalan’ berdasarkan sesuatu yang sebenarnya sama dangkalnya. Selain, tentu saja, ada kecenderungan juga dari kalangan tertentu untuk menjadikan wacana ‘alay’ ini bahan lelucon saja; semacam cermin untuk menertawakan diri sendiri. Meski demikian, saya melihat ada sentimen anti-’alay’ yang cukup serius.
Menurut saya, kata ‘alay’ lahir dari elitisme yang agak menjijikkan. Ini mirip dengan sejarah kata ‘Timur’ atau ‘Orientalisme’ yang diciptakan oleh bangsa Eropa hanya untuk membedakan mereka dari ‘Yang Lain’, yakni bangsa Timur yang lebih inferior, barbarian, anti-individu, terbelakang, percaya tahayul, anti-nalar, dll. Katanya Edward Said, sih, begitu. Nah, wacana ‘alay’ juga setali tiga uang; ia muncul karena banyak orang merasa diri mereka ‘keren’ tetapi tidak bisa menjelaskan ‘ke-keren-an’ mereka kecuali dengan mengembor-gemborkan mereka yang ‘tidak keren’ atau yang ‘alay’ itu. Jadi, mereka itu pada hakikatnya berusaha meninggikan diri sendiri melalui sebuah negasi. Itu sebabnya, ciri-ciri ‘alay’ dijabarkan secara vulgar, biar orang tahu ‘alay’ seperti apa, sekalipun, apabila kita perhatikan baik-baik, ciri-ciri alay itu tidak secara eksklusif dimiliki oleh mereka yang diledek sebagai ‘alay’. Ibarat penyakit, ‘alay’ ini prevalen tetapi samar-samar; karena parameternya itu ambigu dan tidak konsisten. Kenapa, misalnya, siswi SMU al-Azhar Jakarta yang bajunya ngejreng disebut modis karena berani ‘beda’ sementara siswi MAN 1 Majelengka yang bajunya warna-warni disebut ‘alay’? Seperti kata Said dan juga Foucault, sebenarnya ada motif kuasa/politik di balik berbagai istilah yang beredar itu. Dan yang ini yang lebih aneh lagi, kenapa orang berduit yang selalu membawa Ipod kemana-mana tak disebut ‘alay’, sementara bocah kampung yang demen dengerin lagu lewat HP di mall disebut ‘alay’?
Elitisme Yang Kampungan
Sentimen anti-’alay’ itu sebenarnya juga sebentuk ‘alay’ juga. Karena jelas sentimen anti-’alay’ ini, apalagi yang muncul di Fesbuk, sebenarnya cuma soal fashion; soal gaya; soal style yang menurut saya sih tidak subtansial. Jadi, elitisme-nya ini masih kampungan atau masih ‘alay’. Intinya ‘kan masih sama saja. Masih soal orang kaya yang mau bergaya biar kelihatan kaya, atau orang kelas menengah yang tidak mau kelihatan miskin makanya sok gaya, atau orang miskin yang mau kelihatan kaya dan akhirnya mokso gaya-gayaan. Ketiganya itu, menurut saya, ‘alay’, karena tidak bisa bikin negara kita maju! Coba lihat Singapura, elitismenya itu elitisme akademik, yang bersifat meritokratik. Yang diintimidasi itu bukan ‘alay’ yang yang gayanya norak, tetapi mereka yang nilai rapornya jeblok, terlepas apakah mereka ‘alay’ atau tidak. Meskipun saya tidak terlalu setuju engan elitisme akademik, setidaknya elitisme semacam ini ada manfaatnya. Daripada elitisme ‘gaya’ yang sebenarnya useless karena sooner or later mesin kapitalisme Cina akan membuat semua yang tadinya keren menjadi murah dan bisa diakses oleh siapa saja.
PS: Ini buat senang-senang saja; semacam senam pikiran gitu.
*menunggu komentator yang menganggap penulis sebagai filsuf ‘alay’
Fenomenologi ‘Alay’
Apakah ‘alay’? Blogosfer dan Fesbukdom Indonesia mendefinisikan alay dengan menjabarkan ciri-ciri seorang ‘alay’. Bisa dilihat uraiannya di sini dan di sini. Dangkal memang esensialisme semacam itu. Tetapi mereka tidak sepenuhnya salah juga, karena, seperti akan saya jelaskan di bawah nanti, sebenarnya kaum anti-‘alay’ ini memang hendak mengkritisi sebuah ‘kedangkalan’ berdasarkan sesuatu yang sebenarnya sama dangkalnya. Selain, tentu saja, ada kecenderungan juga dari kalangan tertentu untuk menjadikan wacana ‘alay’ ini bahan lelucon saja; semacam cermin untuk menertawakan diri sendiri. Meski demikian, saya melihat ada sentimen anti-’alay’ yang cukup serius.
Menurut saya, kata ‘alay’ lahir dari elitisme yang agak menjijikkan. Ini mirip dengan sejarah kata ‘Timur’ atau ‘Orientalisme’ yang diciptakan oleh bangsa Eropa hanya untuk membedakan mereka dari ‘Yang Lain’, yakni bangsa Timur yang lebih inferior, barbarian, anti-individu, terbelakang, percaya tahayul, anti-nalar, dll. Katanya Edward Said, sih, begitu. Nah, wacana ‘alay’ juga setali tiga uang; ia muncul karena banyak orang merasa diri mereka ‘keren’ tetapi tidak bisa menjelaskan ‘ke-keren-an’ mereka kecuali dengan mengembor-gemborkan mereka yang ‘tidak keren’ atau yang ‘alay’ itu. Jadi, mereka itu pada hakikatnya berusaha meninggikan diri sendiri melalui sebuah negasi. Itu sebabnya, ciri-ciri ‘alay’ dijabarkan secara vulgar, biar orang tahu ‘alay’ seperti apa, sekalipun, apabila kita perhatikan baik-baik, ciri-ciri alay itu tidak secara eksklusif dimiliki oleh mereka yang diledek sebagai ‘alay’. Ibarat penyakit, ‘alay’ ini prevalen tetapi samar-samar; karena parameternya itu ambigu dan tidak konsisten. Kenapa, misalnya, siswi SMU al-Azhar Jakarta yang bajunya ngejreng disebut modis karena berani ‘beda’ sementara siswi MAN 1 Majelengka yang bajunya warna-warni disebut ‘alay’? Seperti kata Said dan juga Foucault, sebenarnya ada motif kuasa/politik di balik berbagai istilah yang beredar itu. Dan yang ini yang lebih aneh lagi, kenapa orang berduit yang selalu membawa Ipod kemana-mana tak disebut ‘alay’, sementara bocah kampung yang demen dengerin lagu lewat HP di mall disebut ‘alay’?
Elitisme Yang Kampungan
Sentimen anti-’alay’ itu sebenarnya juga sebentuk ‘alay’ juga. Karena jelas sentimen anti-’alay’ ini, apalagi yang muncul di Fesbuk, sebenarnya cuma soal fashion; soal gaya; soal style yang menurut saya sih tidak subtansial. Jadi, elitisme-nya ini masih kampungan atau masih ‘alay’. Intinya ‘kan masih sama saja. Masih soal orang kaya yang mau bergaya biar kelihatan kaya, atau orang kelas menengah yang tidak mau kelihatan miskin makanya sok gaya, atau orang miskin yang mau kelihatan kaya dan akhirnya mokso gaya-gayaan. Ketiganya itu, menurut saya, ‘alay’, karena tidak bisa bikin negara kita maju! Coba lihat Singapura, elitismenya itu elitisme akademik, yang bersifat meritokratik. Yang diintimidasi itu bukan ‘alay’ yang yang gayanya norak, tetapi mereka yang nilai rapornya jeblok, terlepas apakah mereka ‘alay’ atau tidak. Meskipun saya tidak terlalu setuju engan elitisme akademik, setidaknya elitisme semacam ini ada manfaatnya. Daripada elitisme ‘gaya’ yang sebenarnya useless karena sooner or later mesin kapitalisme Cina akan membuat semua yang tadinya keren menjadi murah dan bisa diakses oleh siapa saja.
PS: Ini buat senang-senang saja; semacam senam pikiran gitu.
*menunggu komentator yang menganggap penulis sebagai filsuf ‘alay’
Langganan:
Entri (Atom)