Syahdan para filsuf dan kritikus seni gusar. Kapitalisme merajalela. Sekonyong-konyong seni menjadi komoditas yang berasa terlalu dangkal dan tidak otentik untuk dihayati. Karya Beethoven dimutilasi dan lagu pop menye-menye dengan lirik yang sangat norak (ini termasuk The Beatles dengan lagu semacam Can’t Buy Me Love) merebak ke segala penjuru dan disambut dengan histeria anak-anak ABG paska-Perang Dunia ke-2, membuat wajah penikmat ‘musik serius’ merah, entah karena marah atau malu. Gelisah, seniman berkata, duplikasi seni itu bukan seni, tetapi kitsch, seni murahan yang tidak lebih dari jiplakan jelek dari mahakarya para maestro! Kata Mbah Adorno, kitsch ini kesadaran estetik palsu, sebuah parodi dari pengalaman estetika yang sejati. Saya pun membayangkan Adorno meledek The Beatles seperti Anda meledek Kangen Band. Adorno sebel sama The Beatles karena musik mereka itu kitschy, sementara Anda meledek Kangen Band karena mereka ‘alay’!
Fenomenologi ‘Alay’
Apakah ‘alay’? Blogosfer dan Fesbukdom Indonesia mendefinisikan alay dengan menjabarkan ciri-ciri seorang ‘alay’. Bisa dilihat uraiannya di sini dan di sini. Dangkal memang esensialisme semacam itu. Tetapi mereka tidak sepenuhnya salah juga, karena, seperti akan saya jelaskan di bawah nanti, sebenarnya kaum anti-‘alay’ ini memang hendak mengkritisi sebuah ‘kedangkalan’ berdasarkan sesuatu yang sebenarnya sama dangkalnya. Selain, tentu saja, ada kecenderungan juga dari kalangan tertentu untuk menjadikan wacana ‘alay’ ini bahan lelucon saja; semacam cermin untuk menertawakan diri sendiri. Meski demikian, saya melihat ada sentimen anti-’alay’ yang cukup serius.
Menurut saya, kata ‘alay’ lahir dari elitisme yang agak menjijikkan. Ini mirip dengan sejarah kata ‘Timur’ atau ‘Orientalisme’ yang diciptakan oleh bangsa Eropa hanya untuk membedakan mereka dari ‘Yang Lain’, yakni bangsa Timur yang lebih inferior, barbarian, anti-individu, terbelakang, percaya tahayul, anti-nalar, dll. Katanya Edward Said, sih, begitu. Nah, wacana ‘alay’ juga setali tiga uang; ia muncul karena banyak orang merasa diri mereka ‘keren’ tetapi tidak bisa menjelaskan ‘ke-keren-an’ mereka kecuali dengan mengembor-gemborkan mereka yang ‘tidak keren’ atau yang ‘alay’ itu. Jadi, mereka itu pada hakikatnya berusaha meninggikan diri sendiri melalui sebuah negasi. Itu sebabnya, ciri-ciri ‘alay’ dijabarkan secara vulgar, biar orang tahu ‘alay’ seperti apa, sekalipun, apabila kita perhatikan baik-baik, ciri-ciri alay itu tidak secara eksklusif dimiliki oleh mereka yang diledek sebagai ‘alay’. Ibarat penyakit, ‘alay’ ini prevalen tetapi samar-samar; karena parameternya itu ambigu dan tidak konsisten. Kenapa, misalnya, siswi SMU al-Azhar Jakarta yang bajunya ngejreng disebut modis karena berani ‘beda’ sementara siswi MAN 1 Majelengka yang bajunya warna-warni disebut ‘alay’? Seperti kata Said dan juga Foucault, sebenarnya ada motif kuasa/politik di balik berbagai istilah yang beredar itu. Dan yang ini yang lebih aneh lagi, kenapa orang berduit yang selalu membawa Ipod kemana-mana tak disebut ‘alay’, sementara bocah kampung yang demen dengerin lagu lewat HP di mall disebut ‘alay’?
Elitisme Yang Kampungan
Sentimen anti-’alay’ itu sebenarnya juga sebentuk ‘alay’ juga. Karena jelas sentimen anti-’alay’ ini, apalagi yang muncul di Fesbuk, sebenarnya cuma soal fashion; soal gaya; soal style yang menurut saya sih tidak subtansial. Jadi, elitisme-nya ini masih kampungan atau masih ‘alay’. Intinya ‘kan masih sama saja. Masih soal orang kaya yang mau bergaya biar kelihatan kaya, atau orang kelas menengah yang tidak mau kelihatan miskin makanya sok gaya, atau orang miskin yang mau kelihatan kaya dan akhirnya mokso gaya-gayaan. Ketiganya itu, menurut saya, ‘alay’, karena tidak bisa bikin negara kita maju! Coba lihat Singapura, elitismenya itu elitisme akademik, yang bersifat meritokratik. Yang diintimidasi itu bukan ‘alay’ yang yang gayanya norak, tetapi mereka yang nilai rapornya jeblok, terlepas apakah mereka ‘alay’ atau tidak. Meskipun saya tidak terlalu setuju engan elitisme akademik, setidaknya elitisme semacam ini ada manfaatnya. Daripada elitisme ‘gaya’ yang sebenarnya useless karena sooner or later mesin kapitalisme Cina akan membuat semua yang tadinya keren menjadi murah dan bisa diakses oleh siapa saja.
PS: Ini buat senang-senang saja; semacam senam pikiran gitu.
*menunggu komentator yang menganggap penulis sebagai filsuf ‘alay’
Jumat, 16 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar